Tuesday, August 4, 2020

ALEA, BINTANG KECIL PENUH HARAPAN

"Ayo kita pergi ke Galaksi Querencia!! Aku tak sabar ingin melihat ada apa saja disana"

Itulah Alea. Nama lengkapnya Athena Aletheia. Sebuah bintang kecil periang yang berasal dari Milky Way atau lebih kita kenal dengan Galaksi Bima Sakti. Ia lahir berdekatan dengan letak planet Uranus yang sangat dingin itu. Namanya memang belum se terkenal Sirius, si bintang paling terang, atau si tua Arcturus yang menjadi bintang paling tua di langit. Namun si kecil Alea adalah bintang yang sinarnya selalu terpancar cerah dan sangat spesial karena keceriaannya dan kekonyolan tingkahnya.

Alea sangat suka menjelajah. Seringkali ia menghabiskan waktunya dengan berkeliling menjelajahi tata surya. Sampai suatu ketika ia menjelajah sampai ke planet bumi dan melihat sesuatu yang berbeda disana. Ia mulai menghabiskan waktunya untuk memperhatikan seisi bumi. Kondisi alamnya yang indah, sesuatu yang muncul dari tanah yang belum pernah dilihatnya di planet lain, dan segala makhluk di dalamnya. Sejak saat itu ia selalu berkhayal tinggal di Bumi dan menjadi bagian-bagian dari makhluk yang bergerak di bumi. Ini pasti menyenangkan! Fikirnya.

Suatu malam, Alea mendatangi Dewi Eos, sang Dewi Fajar, kita, manusia lebih mengenalnya dengan nama Aurora, Ibu dari bintang fajar dan senja, Eosphoros dan Hesperos. Si kecil Alea pun berkata, "Dewi Eos kuuu! Bolehkah aku tinggal di bumi? Boleh yaa? Yaa yaaa yaaaa boleehhh? Aku mohonnnnn" tanya Alea dengan manja kepada Sang Dewi.

"Kenapa?" tanya Dewi Eos kebingungan, "bukankah kau memiliki semua yang kau butuhkan disini, Alea? Teman yang banyak, lingkungan yang menyenangkan, bahkan kau terlihat sangat senang menjahili si merah Betelgeuse."

"Hmmm.. Ya, sangat menyenangkan disini. Tapi aku penasaran. Taukah kau, Dewi Eos? Di Bumi, sering kali makhluk hidup disana memandangi kita. Mereka melihat kita dengan tersenyum, sambil terkadang membisikkan keinginannya. Sepertinya mereka baik. Mereka pun sepertinya menyukaiku, karena senyumnya menjadi lebih ceria ketika aku memancarkan cahaya lebih terang saat mereka selesai membisikkan harapannya. Aku jadi ingin berteman dengan mereka. Aku pun baru mengetahui, ternyata benda hijau yang tumbuh di dataran mereka bernama tumbuhan. Banyak yang mengeluarkan bunga dengan warna-warna yang cantik. Dan dan dan.. kau harus tau!!!!" lanjutnya dengan sangat bersemangat, "terdapat air terjun besar nan indah disana. Aku ingin disana. Boleh yaaa, yaaa?"

Dewi Eos terlihat semakin bingung. Dengan bijak ia berkata, "baiklah jika itu kemuanmu, tapi kau harus bersabar menunggu hingga waktunya tiba. Ketika para bintang nantinya semakin dewasa, semakin panas dan berubah bentuk,  kau akan turun ke bumi menjadi sebuah bintang jatuh dan menyatu dengan air terjun yang kau inginkan itu. Bagaimana?"

Dengan perasaan riang gembira, Alea mengangguk, "YEAAAYYYYYYYYYYY!! Baik, aku akan sabar menunggu. Terimakasih Dewi!!" Alea pun pergi memancarkan cahaya lebih terang karena kegembiraannya. "Beberapa miliyar tahun tidak akan lama" fikirnya.

Waktu terus berlalu, Alea kecil makin tidak sabar menantikan waktunya. Sampai akhirnya, tibalah waktu bagi Alea untuk turun ke bumi.

"Ibu lihat! Ada bintang jatuh!! Indah sekali cahayanya" ujar seorang anak pada ibunya. Ya, kau benar, bintang jatuh yang dilihat anak tersebut adalah Alea.

WOOOSSHHHHHH!

Alea melesat cepat jatuh ke bumi diiringi dengan sorakan gembira dan cahayanya yang sangat terang benderang. Membuat semua makhluk yang dilewatinya menoleh sambil membisikkan harapannya.

"Aku pasti betah disini" ujar Alea dengan yakinnya.

Tak berapa lama setelah itu, sampailah ia di air terjun yang diinginkannya. Namun, lingkungannya ternyata sepi. Tidak ada hewan yang berkeliaran, angin pun tidak bertiup. Semua hening. Sepi. Tentu hal itu bukan suasana yang diharapkan Alea. Namun ia mencoba untuk menenangkan dirinya, "mungkin aku hanya masih belum terbiasa" ujarnya.

Hari-hari berganti. Tak ada yang berubah. Alea kesepian, tak kuasa ia menahan tangis dan kecewanya sampai akhirnya tangis Alea pun pecah, "AKU MAU PULANGGGGG". Dewi Eos yang memang selalu memantau Alea dari langit pun mulai khawatir.

"Hey, ada apa Alea?" sapanya dengan lembut.
"Aku... hiks hiks.. mau pulang saja Dewi" jawab Alea dengan sesunggukan.
"Loh kenapa? Bukankah kau sangat menyukai bumi yang selalu kau ceritakan itu?"
"Semuanya berbeda Dewi..... Aku tidak punya teman disini. Semua hening. Semua berbeda"

Sang Dewi pun tersenyum menatap si kecil Alea, yang tanpa sadar saat ia bersedih, ia mengeluarkan cahaya yang membuat air terjun tersebut menjadi indah berkilauan. Kilaunya membuat makhluk hidup disekitarnya mulai penasaran dan mengintip dari kejauhan.

"Alea sayang, lingkungan barumu mungkin terasa tak menyenangkan untuk beberapa waktu. Namun, tidak semua hal yang tidak kamu sukai itu buruk bagimu. Bersabarlah sedikit. Mungkin mereka hanya malu menemuimu."
"Begitu kah?" tanya Alea sambil mengusap air matanya
"Coba perlahan kau perhatikan lagi sekitarmu, apakah kau melihat tupai di atas pohon itu? Atau kelinci yang sedang bersembunyi di balik semak semak?" Alea menggelengkan kepalanya. "Mereka selalu berada disana, kau hanya tidak sadar mereka ada disana. Terkadang, kau memang harus melihat lebih dekat dengan sekitarmu Alea. Ayo sapa mereka"

Alea mulai memperhatikan sekelilingnya. Benar saja, Alea akhirnya menyadari ada kumpulan kunang-kunang yang berkumpul memancarkan cahaya mereka yang remang.

"Wah mereka bercahaya sepertiku, hai kalian!" sapa Alea sambil memancarkan cahaya yang dibalas oleh kunang-kunang tersebut dengan cahayanya, yang semakin lama disusul oleh beberapa kunang-kunang lainnya. Betapa senangnya hati Alea. Ia mendapatkan teman pertamanya. Oh tepatnya sekumpulan teman pertamanya.

Hari demi hari, perlahan-lahan, para hewan keluar dari persembunyiannya. Memandangi air terjun Alea yang memancarkan sinar warna warni yang sangat indah. Sesekali mereka pun memejamkan matanya sambil membisikkan harapannya. Persis ketika Alea masih menjadi bintang di angkasa. Membuat Alea bersinar lebih indah, kembali menjadi Alea dengan sinar spesialnya, dan akan selalu menjadi Alea si bintang kecil penuh harapan.




Jakarta, 04 Agustus 2020
Dara Andina

No comments:

Post a Comment